‹ BACK

FAQ

Berapakah luas Sungai Citarum?

Dari Situ Cisanti hingga Muara Bendera, total panjang Sungai Citarum yaitu 269 km dengan luas area 11.323 km2. 13 wilayah administrasi kota/kabupaten yang ada di Bandung, Purwakarta, Bekasi, Karawang hingga Jakarta, turut dilalui oleh sungai ini.

Sungai Citarum memiliki 19 sungai besar dan lebih dari 300 anak sungai. Tujuh mata air di Situ Cisanti adalah sumber bagi sungai ini, dengan ketersediaan air tanah sebesar 5.055 juta m3/tahun.

Bagaimana peran Sungai Citarum sebagai sumber kehidupan?

Sungai Citarum menopang kebutuhan 25 juta jiwa yang tinggal di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS). Keberadaan Citarum juga berperan sebagai sumber pengairan untuk agrikultur, akuakultur, pembangkit listrik, dan keperluan domestik lainnya.

Peran ini melingkupi kebutuhan irigasi untuk 420.000 hektar sawah, budidaya perikanan seluas 30.000 hektar, dan sebagai pembangkit listrik di tiga waduk yang ada di DAS Sungai Citarum; Waduk Saguling berkapasitas 1.400 MW, Waduk Cirata 1.008 MW, serta Waduk Jatiluhur 187,5 MW.

Pemanfaatan sungai pun diperluas menjadi wisata di beberapa titik, seperti arung jeram di Sungai Citarik dan Palayangan, serta taman di Teras Cikapundung. Eceng gondok yang tumbuh liar di Sungai Cikapundung, juga menjadi salah satu alternatif mata pencaharian di Kampung Babakan, Cianjur.

Apakah betul Sungai Citarum sudah sangat kritis, sehingga perlu perhatian khusus?

Sungai Citarum sudah mengalami pencemaran bahkan sejak tahun 1989. Di bagian hulu saja; tepatnya di kaki Pegunungan Wayang, Citarum mengalami penurunan fungsi dari wilayah tangkapan air dan konservasi menjadi lahan pertanian musiman. Dari total 800.000 hektar hutan, hanya 3% yang masuk dalam kawasan konservasi, dan sisanya beralih fungsi. 

Sedimentasi pun meningkat hingga menyebabkan pendangkalan sungai. Daerah bantaran sungai juga banyak beralih fungsi menjadi pemukiman. Ditambah, volume sampah domestik, peternakan, maupun limbah industri yang masuk ke dalam perairan setiap harinya. Limbah tersebut sebagian besar dibuang tanpa memenuhi standar baku mutu air limbah, dan menyebabkan air Sungai Citarum tentu tidak layak konsumsi karena mengandung zat-zat B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya). Seperti, merkuri (Hg), Zn, Fe, H2S, NH3-N, dan Mn.

Banjir juga sering melanda, salah satunya di daerah Bandung Selatan yang paling banyak terdampak. Saat terjadi banjir, kerugian tercatat sebesar 200 miliar untuk Purwakarta-Karawang. Di sektor pertanian pun mengalami pencemaran yang menyebabkan 100.000 hektar sawah gagal panen.

Jenis Limbah Total Limbah/hari
Limbah Cair Industri 340.000 ton
Limbah Tinja Masyarakat 35,5 ton
Limbah Peternakan 287 ton
Total Limbah 340.322,5 ton

Tabel diatas menunjukkan bahwa kondisi kritis Sungai Citarum yang diakibatkan oleh limbah, seperti limbah cair industri, rumah tangga, dan peternakan. Belum lagi limbah medis yang masih sulit dihitung jumlahnya.

Rusaknya kondisi Sungai Citarum menimbulkan isu yang kompleks. Mulai dari perubahan cara pandang yang cenderung acuh, ketimpangan sosial, hingga ketidakstabilan ekonomi masyarakat setempat.

Pentingkah adanya rehabilitasi Sungai Citarum, selain untuk kepentingan masyarakat?

Tentu! Sungai Citarum juga menjadi rumah bagi berbagai makhluk hidup lainnya. Seperti beberapa jenis flora dan fauna endemik yang hanya ditemui di Sungai Citarum. Menurut sejarah, Citarum sendiri berasal dari nama salah satu jenis tanaman endemik yaitu tanaman Tarum (Indigofera tinctoria) yang biasa ditemui di kawasan hulu Citarum. Akan tetapi, tanaman ini mulai langka sejak tahun 1970-an.

Kemudian, terdapat dua Taman Nasional di wilayah sungai ini; Gunung Gede Pangrango dan Gunung Halimun yang termasuk kawasan konservasi dan rekreasi.

Peran inilah yang kemudian diperkuat dengan adanya Perpres No. 15 Tahun 2018 mengenai "Segala sesuatu yang mencoba dengan sengaja menghambat, atau menghilangkan peran dari Sungai Citarum, maka dilakukan tindakan tegas.” Sehingga perlindungan ekosistem di Sungai Citarum merupakan tanggungjawab bersama.

Adakah impian untuk terus mendampingi program rehabilitasi Sungai Citarum agar bergerak sesuai target?

Impian tentu ada. Salah satunya, memastikan bahwa program rehabilitasi Sungai Citarum terus berjalan secara berkelanjutan oleh pihak masyarakat, swasta, dan pemerintah.

Program yang sudah berjalan hingga kini adalah kegiatan yang ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, pada awal tahun 2018; bernama Citarum Harum. Gerakan ini telah berjalan seperti melakukan pembersihan di berbagai sektor di hulu Sungai Citarum, Situ Cisanti, dan dilanjutkan ke beberapa aliran Sungai Citarum, seperti di Cihampelas.

Kemudian, berbagai upaya yang juga dilakukan adalah pemeliharaan Situ Cisanti, penanaman tanaman Tarum, patroli dan penutupan saluran limbah, penanaman pohon di bantaran sungai Desa Sukamukti, pemeliharaan tanaman keras di bantaran sungai Desa Pesawahan, pembersihan sampah di bantaran sungai Desa Sulaiman, serta pemasangan jaring sampah di anak Sungai Cicukang, Desa Marsel.

Upaya ini masih terus berjalan, dan diharapkan bisa mendapat perhatian penuh, serta solusi lainnya untuk mengembalikan fungsi dan peran strategis Sungai Citarum. Diperlukan kolaborasi aktif agar gerakan #CitarumHarum dapat berdampak lebih luas bagi seluruh pihak.

Sampai kapankah program revitalisasi ini berjalan?

Seluruh program Citarum Harum ditargetkan selesai dalam 7 tahun. Dengan harapan, baik selama ataupun setelah program berjalan, masyarakat maupun pihak-pihak terkait dapat tersadarkan dan berkomitmen untuk mengambil peran dalam pelestarian Sungai Citarum. Sehingga, selesainya program ini turut memulihkan citra kelam Sungai Citarum.

"7 tahun adalah target dari program ini, tapi tidak harus 7 tahun, jika selesai lebih cepat lebih baik. Khusus untuk permasalahan industri, maksimal 2 tahun sudah selesai khususnya masalah AMDAL.", - Mayjen TNI Besar Harto Karyawan, S.H., M.Tr.(Han), Pangdam III/Siliwangi